IBC

IBC Targetkan Industri Daur Ulang Baterai EV Beroperasi pada Tahun 2029

IBC Targetkan Industri Daur Ulang Baterai EV Beroperasi pada Tahun 2029
IBC Targetkan Industri Daur Ulang Baterai EV Beroperasi pada Tahun 2029

JAKARTA - PT Industri Baterai Indonesia (IBC) menargetkan pembangunan industri daur ulang baterai kendaraan listrik pada 2029–2030. 

Komitmen ini disampaikan dalam pertemuan dengan Komisi XII DPR RI. Pembangunan tersebut diharapkan menjadi tonggak penting bagi pengelolaan baterai EV di Indonesia.

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menegaskan bahwa meski investasi pabrik akan terealisasi beberapa tahun ke depan, fondasi tata kelola dan regulasi harus dipersiapkan sejak dini. 

Langkah awal ini penting untuk memastikan pembangunan industri berjalan aman dan berkelanjutan. Strategi persiapan yang matang menjadi kunci keberhasilan jangka panjang industri daur ulang baterai.

IBC melakukan persiapan secara terintegrasi dengan menggandeng mitra strategis. Tujuannya untuk memetakan potensi dan dukungan teknologi pengolahan baterai bekas berbasis nikel. Hal ini sekaligus menyelaraskan rencana pengembangan industri dengan kebijakan nasional terkait kendaraan listrik dan ekonomi sirkular.

Persiapan Infrastruktur dan Kapasitas Internal

IBC memperkuat perencanaan infrastruktur dan kapasitas internal untuk pengelolaan baterai bekas. Penataan fasilitas dan sistem operasional menjadi bagian dari persiapan awal. Tujuannya agar proses daur ulang dapat dilakukan secara efisien, aman, dan ramah lingkungan.

Dari sisi potensi, Aditya menilai baterai bekas berbasis nikel akan menjadi sumber bahan baku strategis di masa depan. Hal ini seiring dengan meningkatnya adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Volume baterai bekas diproyeksikan terus meningkat, menjadi peluang besar untuk mendukung ekonomi sirkular energi.

IBC juga mempersiapkan tenaga ahli dan sumber daya manusia yang mampu mengelola material baterai. Kesiapan SDM menjadi faktor penting agar proses pengolahan baterai berjalan lancar. Infrastruktur logistik yang memadai juga diperlukan untuk mendukung alur pengumpulan dan distribusi baterai bekas.

Kolaborasi dengan Mitra Strategis

“Kami berkoordinasi dengan mitra strategis untuk memetakan potensi baterai bekas berbasis nikel serta kesiapan teknologi pengolahannya,” jelas Aditya. Selain itu, IBC menyelaraskan pengembangan industri dengan kebijakan nasional. Strategi ini memungkinkan pemanfaatan teknologi terkini dan efisiensi operasional sejak tahap perencanaan.

Kolaborasi dengan pihak eksternal juga membantu mempercepat transfer teknologi. Pendekatan ini memastikan pabrik daur ulang siap beroperasi sesuai target 2029–2030. IBC menekankan bahwa sinergi antara regulasi, teknologi, dan kemitraan strategis sangat penting bagi keberhasilan industri.

Selain itu, kemitraan strategis memberikan dukungan dalam hal investasi dan manajemen risiko. Mitra dapat membantu pemetaan pasokan baterai bekas dan pengolahan nikel sebagai bahan baku sekunder. Hal ini menjadi bagian dari rencana jangka panjang untuk memperkuat rantai pasok baterai nasional.

Tantangan dan Regulasi Pendukung

Aditya mengakui pengembangan industri daur ulang baterai EV tidak lepas dari sejumlah tantangan. Mulai dari kepastian pasokan bahan baku hingga kebutuhan investasi besar. Selain itu, pemenuhan standar keselamatan dan lingkungan menjadi faktor yang harus diperhatikan.

“Kesiapan infrastruktur logistik dan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting,” ungkapnya. Infrastruktur memadai diperlukan agar pengumpulan, transportasi, dan pengolahan baterai berjalan aman. Sementara SDM terlatih akan memastikan standar operasional dipenuhi secara konsisten.

IBC berharap adanya regulasi yang jelas dan konsisten dari pemerintah. Dukungan kebijakan diharapkan terkait mekanisme pengumpulan baterai bekas, standar keselamatan, dan insentif bagi industri daur ulang. Dengan regulasi yang mendukung, investor memiliki kepastian untuk menanamkan modal di sektor ini.

Penerapan regulasi juga diharapkan dapat mempercepat realisasi industri. Hal ini mencakup standar pengolahan, keamanan lingkungan, dan tata kelola bahan baku sekunder. Dengan kepastian hukum, industri daur ulang baterai EV di Indonesia bisa berkembang lebih cepat dan terstruktur.

Manfaat Ekonomi Sirkular dan Kemandirian Baterai Nasional

Ke depan, industri daur ulang baterai EV diharapkan memperkuat rantai pasok baterai nasional. Penyediaan bahan baku sekunder secara berkelanjutan menjadi salah satu manfaat utama. Hal ini mendukung kemandirian industri baterai sekaligus target transisi energi di Indonesia.

“Dengan adanya industri daur ulang, kita bisa memperkuat kemandirian industri baterai nasional sekaligus mendukung target transisi energi dan ekonomi sirkular,” jelas Aditya. Selain itu, penerapan daur ulang baterai dapat menurunkan jejak karbon produk baterai Indonesia. Jejak karbon yang lebih rendah meningkatkan daya saing baterai nasional di pasar global.

IBC menekankan pentingnya implementasi daur ulang sebagai strategi jangka panjang. Industri ini tidak hanya menyediakan bahan baku tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan. Dengan persiapan matang, industri daur ulang baterai EV siap memberikan kontribusi signifikan bagi ekonomi sirkular dan energi bersih Indonesia.

Penerapan teknologi pengolahan modern juga akan meningkatkan efisiensi dan kualitas produk. IBC memastikan setiap tahap proses produksi mengikuti standar keselamatan dan ramah lingkungan. Dengan pendekatan ini, Indonesia dapat menjadi salah satu pemain utama dalam industri baterai EV global.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index