Investasi Pangan dan Energi Jadi Pilar Ekonomi Indonesia

Minggu, 18 Januari 2026 | 08:42:27 WIB
Investasi Pangan dan Energi Jadi Pilar Ekonomi Indonesia

JAKARTA - Pencapaian investasi nasional bukan sekadar angka, tetapi indikator penting bagi ketahanan ekonomi Indonesia. Sepanjang tahun 2025, realisasi investasi mencapai Rp1.931,2 triliun, melampaui target pemerintah sebesar Rp1.905,6 triliun. 

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menegaskan, capaian ini membuka peluang kerja bagi 2,7 juta orang dan menjadi tonggak awal arah kebijakan ekonomi lima tahun ke depan.

Meski pencapaian ini menggembirakan, tantangan sebenarnya adalah memastikan investasi tersebut berkualitas, inklusif, dan mendorong pertumbuhan berkelanjutan. 

Angka yang tinggi harus dibarengi strategi untuk mengintegrasikan sektor prioritas seperti energi dan pangan. Kedua sektor ini dipandang strategis karena memiliki dampak luas bagi ekonomi nasional dan ketahanan masyarakat.

Investasi tidak hanya memicu pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga menyiapkan pondasi bagi pembangunan berkelanjutan. Pemerintah perlu menitikberatkan strategi pada hilirisasi, peningkatan kapasitas produksi, dan penguatan ekosistem industri yang mampu menyerap tenaga kerja, meningkatkan produktivitas, dan mendorong ekspor bernilai tambah.

Investasi Sektor Energi Sebagai Tulang Punggung

Sektor energi menjadi prioritas utama pemerintahan Prabowo Subianto, tidak hanya dari sisi produksi minyak dan gas, tetapi juga energi baru dan terbarukan (EBT) serta hilirisasi. 

Investasi di bidang hilirisasi mencapai Rp580 triliun atau sekitar 30,2 persen dari total investasi nasional, menandakan peluang nilai tambah dari pengolahan energi domestik.

Selain data realisasi, sinyal strategis juga terlihat dari peresmian peningkatan kapasitas kilang Balikpapan senilai 7,4 miliar dolar AS. Langkah ini memperluas kapasitas refining nasional, mengurangi ketergantungan impor bahan bakar fosil, dan memperkuat ketahanan energi. Energi yang stabil dan kompetitif menjadi fondasi bagi sektor lain, termasuk logistik, manufaktur, dan pertanian.

Tantangan sektor energi tetap kompleks, mulai dari dominasi energi fosil hingga hambatan transisi energi bersih. Pemerintah perlu memperjelas roadmap investasi EBT dan menyediakan insentif menarik untuk investor global. 

Langkah ini penting agar Indonesia mampu menjadi produsen energi modern dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi dalam peta persaingan energi global.

Investasi Sektor Pangan Sebagai Fondasi Ketahanan

Ketahanan pangan menjadi agenda prioritas Pemerintahan Prabowo Subianto karena memiliki dampak langsung terhadap ketahanan ekonomi dan sosial. Investasi di hilirisasi pangan, termasuk pertanian, perkebunan, dan perikanan, meningkatkan produktivitas, nilai tambah, serta keamanan pangan nasional.

Nilai hilirisasi pangan mencapai sekitar 30 persen dari total investasi nasional, menandakan sektor pengolahan dan rantai pasok produk pangan mulai menarik perhatian investor. Tren global menunjukkan bahwa negara yang memperkuat agroindustri, termasuk teknologi pangan dan cold chain logistics, cenderung lebih resilient dan kompetitif dalam ekspor.

Investasi tidak hanya fokus pada komoditas primer, tetapi juga plant processing, pengolahan protein nabati, dan penerapan teknologi pertanian. Dampak dari investasi ini akan memperkuat ketahanan pangan domestik, mendukung program Makan Bergizi Gratis, dan membuka peluang ekspor produk agroindustri bernilai tambah, sehingga menciptakan arus devisa dan lapangan kerja baru.

Strategi Berkelanjutan Untuk Pertumbuhan Ekonomi

Kebijakan investasi harus berorientasi pada hasil jangka panjang, memastikan proyek yang didanai mampu meningkatkan produktivitas, menyerap tenaga kerja, dan memperkuat ketahanan nasional. 

Pemerintah perlu memberikan insentif bagi proyek agroindustri, memperkuat akses modal bagi petani dan pelaku usaha mikro, serta membangun infrastruktur logistik yang memadai.

Dalam sektor energi, kebijakan harus mendorong transisi ke energi bersih sambil memanfaatkan potensi gas domestik dan memperkuat hilirisasi. Dengan sinyal yang tepat, Indonesia dapat menjadi pusat produksi energi modern sekaligus memanfaatkan investasi sebagai alat untuk stabilisasi ekonomi, mengurangi risiko impor, dan menghadapi tekanan global.

Akhirnya, capaian investasi 2025 menjadi momentum awal yang menunjukkan arah positif, tetapi tidak cukup jika hanya menjadi angka. Transformasi ekonomi yang nyata membutuhkan strategi terintegrasi, kolaborasi sektor publik dan swasta, serta fokus pada pembangunan berkelanjutan di sektor energi dan pangan. Dengan pendekatan ini, Indonesia mampu menegaskan posisi sebagai ekonomi yang resilient, mandiri, dan berdaya saing global.

Terkini