JAKARTA - Perjalanan transformasi bisnis sering kali membutuhkan waktu sebelum hasilnya benar-benar terlihat.
Hal tersebut kini mulai dirasakan oleh PT Wahana Interfood Nusantara Tbk yang dikenal dengan Win&Co Group. Setelah melalui berbagai langkah pembenahan internal, kinerja perusahaan mulai menunjukkan sinyal pemulihan pada akhir tahun 2025.
Momentum tersebut kemudian dimanfaatkan manajemen untuk menatap target pertumbuhan yang lebih agresif pada tahun berikutnya.
Perusahaan menilai fase perubahan yang dilakukan selama beberapa waktu terakhir mulai memberikan dampak terhadap performa operasional.
Perbaikan strategi penjualan, penguatan struktur bisnis, serta peningkatan kapasitas produksi menjadi faktor penting yang menopang pemulihan kinerja.
Dengan fondasi yang dinilai semakin kuat, manajemen optimistis perusahaan dapat meningkatkan pendapatan secara signifikan pada tahun 2026.
Pemulihan yang mulai terlihat pada akhir 2025 juga menjadi sinyal penting bagi investor dan pelaku industri. Perusahaan tidak hanya fokus pada pemulihan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang lebih kokoh untuk pertumbuhan berkelanjutan di masa mendatang.
Momentum Pemulihan Kinerja Perusahaan
Kinerja PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO) atau Win&Co Group mulai menunjukkan pemulihan signifikan pada akhir 2025, seiring transformasi bisnis yang mulai membuahkan hasil. Berbekal momentum tersebut, Perseroan membidik kenaikan pendapatan lebih dari 50% pada 2026.
Pemulihan ini tercermin dari akselerasi penjualan pada kuartal IV-2025 yang mencapai Rp 53,5 miliar, melonjak 40% dibandingkan kuartal III-2025 sebesar Rp 38,3 miliar.
Kinerja tersebut didorong oleh penguatan strategi komersial serta ekspansi pasar setelah aksi right issue yang dilakukan pada akhir tahun.
Secara keseluruhan, Perseroan membukukan pendapatan neto sebesar Rp 165,08 miliar sepanjang 2025. Kontribusi terbesar berasal dari perbaikan kinerja di kuartal IV yang menjadi titik balik operasional perusahaan.
Dari sisi profitabilitas, Perseroan masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 250,86 miliar pada 2025, melebar dibandingkan rugi Rp 52,20 miliar pada 2024.
Namun, manajemen menegaskan tekanan tersebut terutama berasal dari beban non-operasional yang bersifat satu kali (non-recurring), sehingga tidak mencerminkan kinerja inti perusahaan.
Direktur Utama Win&Co Group menyatakan, 2025 merupakan fase krusial dalam proses transformasi menyeluruh yang dilakukan Perseroan, baik dari sisi operasional maupun keuangan.
“Kuartal IV menjadi titik balik, di mana hasil transformasi mulai terlihat. Kami juga berinvestasi pada fondasi jangka panjang seperti implementasi sistem ERP berbasis SAP serta peningkatan kapasitas produksi secara signifikan,” ujarnya.
Transformasi Operasional Dan Penguatan Fundamental
Perubahan strategi yang dilakukan perusahaan tidak hanya terbatas pada aspek pemasaran, tetapi juga menyentuh berbagai sisi operasional. Salah satu fokus utama perusahaan adalah memperkuat sistem manajemen dan meningkatkan efisiensi proses produksi.
Implementasi sistem ERP berbasis SAP menjadi salah satu langkah penting dalam transformasi tersebut. Sistem ini diharapkan mampu meningkatkan transparansi data, mempercepat proses pengambilan keputusan, serta memperkuat integrasi antar lini bisnis di dalam perusahaan.
Perbaikan fundamental juga tercermin pada posisi keuangan. Ekuitas Perseroan berhasil berbalik positif menjadi Rp 112 miliar pada kuartal IV-2025, dari sebelumnya negatif Rp 4 miliar pada kuartal III.
Perubahan ini menjadi indikator bahwa upaya restrukturisasi yang dilakukan mulai memberikan dampak nyata terhadap kesehatan finansial perusahaan. Dengan posisi ekuitas yang kembali positif, ruang gerak perusahaan untuk melakukan ekspansi bisnis pun menjadi semakin terbuka.
Strategi Ekspansi Dan Peningkatan Kapasitas Produksi
Selain memperbaiki struktur internal, perusahaan juga melakukan investasi untuk memperkuat kapasitas produksi. Dalam dua tahun terakhir, Perseroan telah mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 27 miliar untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas.
Kapasitas produksi pun meningkat sebesar 3.000 ton menjadi 12.000 ton per tahun, yang akan efektif mulai 2026. Peningkatan kapasitas ini diharapkan mampu memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang, sekaligus mendukung target pertumbuhan perusahaan.
Sejalan dengan penguatan fundamental tersebut, Win&Co Group menargetkan pertumbuhan pendapatan di atas 50% pada 2026. Target ini akan ditopang oleh penguatan segmen business-to-business (B2B), ekspansi distribusi, serta optimalisasi kapasitas produksi.
Momentum musiman juga diperkirakan akan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja penjualan perusahaan. Periode seperti Idulfitri, Natal, dan Tahun Baru biasanya menjadi masa dengan permintaan produk makanan yang meningkat.
Perseroan juga telah mengamankan pipeline kerja sama dengan berbagai pelaku industri bakery dan kue ternama di Indonesia. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jaringan pasar sekaligus meningkatkan volume penjualan.
Peluang Pertumbuhan Dan Rencana Ekspansi Bisnis
Tidak hanya mengandalkan pertumbuhan organik, Perseroan juga tengah menjajaki ekspansi anorganik melalui rencana akuisisi, khususnya di sektor makanan non-cokelat dan fast moving consumer goods (FMCG). Langkah ini diharapkan dapat memperluas portofolio sekaligus memperkuat posisi di industri makanan dan minuman.
Diversifikasi produk dinilai menjadi strategi penting untuk menjaga daya saing perusahaan di tengah dinamika pasar yang semakin kompetitif. Dengan portofolio produk yang lebih luas, perusahaan dapat menjangkau segmen konsumen yang lebih beragam.
Manajemen meyakini kombinasi transformasi internal, peningkatan kapasitas, serta potensi sinergi dari ekspansi akan menjadi katalis utama pertumbuhan berkelanjutan ke depan.
Dengan fundamental yang semakin sehat dan momentum pemulihan yang telah terbentuk sejak akhir 2025, Win&Co Group optimistis dapat membalikkan kinerja laba serta mencatatkan akselerasi pertumbuhan yang lebih agresif pada 2026.
Ke depan, perusahaan berharap langkah transformasi yang telah dilakukan mampu menciptakan pertumbuhan bisnis yang lebih stabil.
Dengan dukungan strategi ekspansi dan peningkatan kapasitas produksi, manajemen menilai peluang untuk meningkatkan kinerja finansial masih terbuka lebar.