JAKARTA - Indonesia terus memperkuat posisinya dalam peta energi global melalui pengembangan energi panas bumi.
Sumber energi ini kini menjadi salah satu fokus utama dalam mendukung transisi menuju energi bersih. Dengan cadangan yang besar, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memaksimalkan potensi tersebut.
Perkembangan ini terlihat dari kinerja positif PT Pertamina Geothermal Energi Tbk sepanjang 2025. Peningkatan laba dan kapasitas terpasang menunjukkan bahwa sektor ini semakin berkembang. Energi panas bumi pun mulai beralih dari sekadar alternatif menjadi tulang punggung energi bersih.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemanfaatan energi panas bumi semakin relevan. Selain ramah lingkungan, sumber energi ini juga memiliki keandalan tinggi. Hal tersebut menjadikannya sebagai pilihan strategis dalam bauran energi nasional.
Capaian Kinerja dan Potensi Pertumbuhan
Pengamat energi Hadi Ismoyo menilai capaian tersebut sebagai momentum penting. Ia menyebut potensi panas bumi Indonesia masih sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Ruang untuk pertumbuhan dinilai masih terbuka luas di masa mendatang.
“Potensi panas bumi Indonesia sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Dari seluruh potensi yang tersedia, ruang pertumbuhan masih sangat luas,” kata Hadi.
Penambahan kapasitas terpasang menjadi bukti nyata dari akselerasi pengembangan sektor ini. Saat ini kapasitas mencapai 727 megawatt dari sebelumnya 672 megawatt. Peningkatan ini mencerminkan keseriusan dalam mengembangkan energi panas bumi.
Hadi juga menekankan bahwa capaian tersebut tidak boleh berhenti di tingkat korporasi saja. Dukungan dari berbagai pihak diperlukan agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas. Sinergi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi faktor penting dalam pengembangan ke depan.
"Panas bumi adalah energi dengan baseload yang stabil, berbeda dengan energi terbarukan lain seperti surya atau angin,” jelas Hadi.
Target Pemerintah dan Peran Energi Terbarukan
Pemerintah telah menetapkan target ambisius dalam pengembangan energi baru terbarukan. Dalam periode 2025 hingga 2034, kapasitas pembangkit EBT ditargetkan meningkat signifikan. Energi panas bumi menjadi salah satu kontributor utama dalam rencana tersebut.
Dalam skenario ini, panas bumi dinilai mampu menjaga keandalan sistem kelistrikan. Selain itu, energi ini juga berperan penting dalam menekan emisi karbon. Dengan demikian, kontribusinya sangat strategis dalam mencapai target nasional.
Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies, Ali Ahmudi Achyak, menyampaikan optimisme terhadap tren ini. Ia menilai kinerja positif perusahaan dapat mempercepat transisi energi. Hal ini menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi.
“Jika kinerja (bisnis) seperti ini terus dijaga dan diperluas, bukan tidak mungkin transisi energi akan berjalan lebih agresif. Panas bumi bisa menjadi game changer, terutama karena Indonesia memiliki salah satu cadangan terbesar di dunia,” kata Ali.
Tantangan dan Kebutuhan Kolaborasi
Meski memiliki potensi besar, pengembangan energi panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan. Biaya eksplorasi yang tinggi menjadi salah satu hambatan utama. Selain itu, risiko proyek dan kebutuhan infrastruktur juga menjadi perhatian.
Ali menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta. Kerja sama ini diperlukan untuk membuka potensi yang masih belum tergarap. Dengan dukungan yang tepat, hambatan yang ada dapat diatasi secara bertahap.
“Karena setiap satu persen pertumbuhan ekonomi ditopang 1,8 persen pertumbuhan ketenagalistrikan,” ujarnya.
Dalam konteks ini, energi panas bumi tidak hanya berperan sebagai sumber energi. Lebih dari itu, sektor ini juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu, pengembangannya harus dilakukan secara berkelanjutan.
Kinerja PGE dan Prospek Energi Berkelanjutan
Keberhasilan PGE dalam meningkatkan kinerja menjadi bukti nyata potensi sektor ini. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat peningkatan pendapatan yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa energi panas bumi memiliki prospek yang cerah.
Pendapatan perusahaan mencapai USD432,72 juta, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD407,12 juta. Selain itu, produksi listrik hijau juga mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Total produksi mencapai 5.095 gigawatt hour, meningkat dari 4.827 gigawatt hour.
Capaian ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Keberhasilan tersebut juga menjadi fondasi penting dalam mempercepat transisi energi. Dengan pengelolaan yang tepat, energi panas bumi dapat menjadi solusi jangka panjang.
“Dengan potensi besar yang belum tergarap sepenuhnya, panas bumi bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga strategi jangka panjang menuju kemandirian energi yang berkelanjutan” katanya.