JAKARTA - Pergerakan harga komoditas global kembali menjadi perhatian pelaku pasar dalam beberapa waktu terakhir.
Salah satu komoditas yang menunjukkan penguatan signifikan adalah minyak sawit mentah atau crude palm oil. Kenaikan harga tersebut mencerminkan dinamika pasar minyak nabati dunia yang dipengaruhi berbagai faktor ekonomi dan perdagangan internasional.
Penguatan harga CPO terjadi di tengah perubahan kondisi pasar komoditas global. Faktor permintaan, pergerakan mata uang, hingga perkembangan harga minyak nabati lain turut memengaruhi arah perdagangan. Kondisi tersebut mendorong harga CPO mencapai posisi tertinggi dalam beberapa bulan terakhir di Bursa Malaysia.
Lonjakan Harga CPO di Bursa Malaysia
Harga kontrak Crude Palm Oil di Bursa Malaysia Derivatives naik tajam pada perdagangan Jumat. Kenaikan tersebut bahkan membawa harga CPO mencapai level tertinggi dalam empat bulan terakhir.
Penguatan harga ini juga membuat CPO mencatat kenaikan secara mingguan. Kenaikan tersebut didukung oleh penguatan harga minyak nabati di Dalian serta pelemahan nilai tukar ringgit terhadap dolar Amerika Serikat.
Berdasarkan data Bursa Malaysia Derivatives pada penutupan perdagangan, kontrak berjangka CPO untuk Maret 2026 naik 154 Ringgit Malaysia menjadi 4.250 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO April 2026 juga meningkat 156 Ringgit Malaysia menjadi 4.336 Ringgit Malaysia per ton.
Kenaikan harga tersebut menunjukkan minat pasar yang tetap kuat terhadap komoditas minyak sawit. Pergerakan ini sekaligus mencerminkan kondisi pasar yang sedang mengalami tren positif dalam perdagangan minyak nabati global.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO Mei 2026 terkerek 160 Ringgit Malaysia menjadi 4.367 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Juni 2026 juga melonjak 157 Ringgit Malaysia menjadi 4.375 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka CPO Juli 2026 tercatat naik 148 Ringgit Malaysia menjadi 4.265 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan kontrak berjangka CPO Agustus 2026 meningkat 139 Ringgit Malaysia menjadi 4.347 Ringgit Malaysia per ton.
Kinerja Harga Mingguan yang Signifikan
Secara keseluruhan, harga CPO menunjukkan kenaikan cukup besar dalam satu pekan terakhir. Pergerakan ini menjadi perhatian pelaku pasar karena mencerminkan perubahan signifikan dalam perdagangan komoditas global.
Berdasarkan data perdagangan, harga CPO secara mingguan telah naik sekitar 7,99 persen. Kenaikan tersebut didorong oleh reli harga minyak mentah yang terjadi di pasar global.
Penguatan ini juga mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak pekan yang berakhir pada akhir November 2024. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak sawit sedang mengalami momentum positif setelah periode fluktuasi sebelumnya.
Kenaikan harga yang cukup signifikan ini juga dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal. Salah satunya adalah pergerakan harga komoditas energi dan minyak nabati yang saling berkaitan di pasar global.
Dinamika pasar tersebut membuat pelaku industri dan investor terus memantau perkembangan harga CPO. Perubahan harga yang cepat dapat memberikan dampak terhadap perdagangan komoditas serta industri yang berkaitan dengan minyak sawit.
Faktor Pendorong Penguatan Harga
Kepala Riset Komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai, Anilkumar Bagani menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi kenaikan harga tersebut. Menurutnya, pergerakan harga di Bursa Malaysia mengikuti tren penguatan komoditas energi dan minyak nabati lainnya.
“Selain itu, ada pemulihan kuat pada kontrak berjangka palm olein di Dalian dan minyak rapeseed di Zhengzhou selama sesi perdagangan Asia,” kata Bagani.
Ia juga menyebut bahwa kenaikan harga CPO pada awal perdagangan dipengaruhi oleh reli bullish minyak kedelai di Chicago. Selain itu, kontrak gas oil serta harga minyak mentah juga mengalami penguatan pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan harga komoditas tersebut saling memengaruhi dalam pasar global. Hubungan antar komoditas membuat kenaikan harga pada satu produk dapat berdampak pada komoditas lain yang memiliki fungsi serupa.
Kondisi ini membuat harga minyak sawit ikut terdorong naik seiring meningkatnya harga minyak nabati pesaing. Pasar global kemudian merespons perubahan tersebut melalui peningkatan aktivitas perdagangan.
Minyak Sawit Tetap Kompetitif di Pasar Global
Bagani menambahkan bahwa minyak sawit saat ini masih menjadi minyak nabati paling murah dibandingkan sejumlah pesaingnya. Komoditas ini bersaing dengan minyak kedelai, minyak rapeseed, serta minyak bunga matahari di pasar global.
Harga minyak sawit yang lebih rendah membuatnya tetap menarik bagi banyak pembeli. Selain itu, harga komoditas ini juga hampir selevel dengan gas oil yang turut mempengaruhi permintaan pasar.
Kondisi tersebut meningkatkan potensi permintaan baru terhadap minyak sawit. Ketika harga lebih kompetitif dibandingkan produk lain, pembeli cenderung memilih komoditas yang lebih ekonomis.
Namun demikian, pasar tetap menghadapi sejumlah tantangan yang dapat mempengaruhi perdagangan global. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah potensi gangguan pengiriman minyak akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Situasi geopolitik seperti ini dapat mempengaruhi distribusi komoditas energi dan minyak nabati. Dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai pasar internasional yang bergantung pada jalur perdagangan global.
Pergerakan Pasar Minyak Nabati Dunia
Di pasar komoditas lainnya, beberapa minyak nabati juga mengalami pergerakan harga. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian tercatat naik sekitar 0,79 persen.
Sementara itu, kontrak minyak sawit di bursa tersebut menguat sekitar 2,44 persen. Di sisi lain, minyak kedelai di Chicago Board of Trade justru mengalami penurunan tipis sekitar 0,12 persen.
Pergerakan harga minyak nabati biasanya saling berkaitan satu sama lain. Hal ini karena berbagai jenis minyak nabati bersaing memperebutkan pangsa pasar yang sama dalam perdagangan global.
Kondisi tersebut membuat harga minyak sawit sering mengikuti tren harga minyak nabati lainnya. Ketika salah satu komoditas mengalami kenaikan, komoditas lain seringkali ikut terdorong naik.
Selain faktor komoditas, nilai tukar mata uang juga mempengaruhi pergerakan harga di pasar internasional. Ringgit Malaysia yang menjadi mata uang perdagangan CPO tercatat melemah sekitar 0,05 persen terhadap dolar Amerika Serikat.
Pelemahan mata uang tersebut membuat harga minyak sawit menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. Kondisi ini turut meningkatkan daya tarik pembelian CPO di pasar internasional.