JAKARTA - Dalam upaya untuk mencapai target lifting minyak sebesar 610.000 barel per hari pada 2026, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengintensifkan kegiatan eksplorasi dan pemanfaatan sumur-sumur potensial.
Melihat penurunan alami produksi minyak yang terjadi pada lapangan-lapangan tua, SKK Migas berfokus pada upaya mitigasi agar laju penurunan produksi dapat ditekan seoptimal mungkin.
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, mengungkapkan bahwa penurunan alami produksi mencapai hampir 4% per tahun.
Hal ini menjadikan eksplorasi dan pemanfaatan sumur-sumur eksisting menjadi langkah penting dalam menjaga kelancaran target produksi minyak nasional.
Fokus Eksplorasi untuk Tahan Penurunan Produksi Alamiah
Untuk mencapai target yang telah ditetapkan, SKK Migas telah memetakan sejumlah wilayah dengan potensi eksplorasi yang menjanjikan. Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah mendorong eksplorasi masif di lapangan-lapangan yang selama ini mengalami penurunan produksi.
Menurut Rikky, kegiatan eksplorasi yang berfokus pada pemanfaatan sumur-sumur potensial, baik yang baru maupun eksisting, sangat krusial.
“Penurunan alamiah produksi di lapangan-lapangan tua dengan decline hampir 3,9% sampai 4,5% harus kami tahan dengan sangat masifnya kegiatan eksplorasi di Indonesia,” ujar Rikky.H
al ini menjadi dasar utama bagi SKK Migas untuk mempercepat pencarian cadangan baru, terutama di wilayah-wilayah yang diyakini menyimpan potensi besar.
Pemanfaatan Sumur Baru dan Eksisting
SKK Migas tidak hanya mengandalkan eksplorasi di wilayah baru, tetapi juga berfokus pada optimisasi sumur-sumur eksisting yang memiliki potensi produksi tinggi. Terdapat sekitar 39 sumur potensial yang akan dimaksimalkan untuk menambah volume lifting minyak nasional pada tahun 2026.
Pemanfaatan sumur-sumur eksisting ini diharapkan dapat membantu menahan penurunan produksi alamiah yang terjadi pada lapangan-lapangan tua.
Rikky menambahkan bahwa eksplorasi dan pengeboran di wilayah-wilayah seperti Sumatera, lepas pantai Natuna, Laut Arafura, dan Jawa menjadi titik fokus utama.
Wilayah-wilayah ini dianggap memiliki potensi yang cukup besar untuk menemukan cadangan baru yang bisa berkontribusi pada target lifting minyak nasional.
“Kami mengharapkan hasil positif dari sumur-sumur di daerah ini dengan temuan-temuan yang bisa menjadi bagian dari big fish ataupun giant discovery,” jelasnya.
Potensi Besar di Struktur Cadangan Baru
SKK Migas telah memetakan sekitar 301 struktur yang berpotensi menjadi cadangan minyak dan gas. Dari total tersebut, 79 struktur sudah memasuki tahap Penentuan Status Eksplorasi (PSE).
Perkiraan potensi dari struktur-struktur ini mencapai 259 juta barel minyak (MMBO) dan 3,9 triliun kaki kubik gas (TCF). Potensi besar ini memberi harapan baru bagi SKK Migas dalam upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi minyak nasional.
Dengan melihat hasil eksplorasi dan penemuan baru yang terus meningkat, SKK Migas optimis bahwa pencapaian target lifting 610.000 barel per hari pada 2026 bisa tercapai, bahkan melebihi target tersebut.
"Temuan-temuan baru di wilayah-wilayah eksplorasi diharapkan dapat berkontribusi dalam menopang target lifting nasional," tambah Rikky.
Eksplorasi Sumur Idle dan Pengelolaannya
Selain fokus pada eksplorasi di wilayah baru, SKK Migas juga mengoptimalkan potensi dari sumur-sumur yang tidak aktif atau idle wells. Terdapat sekitar 4.500 sumur idle yang telah dipetakan, di mana 4.200 di antaranya berada di bawah pengelolaan Pertamina, sementara sisanya dikelola oleh kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) swasta.
Sumur-sumur idle ini berpotensi besar untuk diperbaiki dan digunakan kembali untuk mendongkrak produksi. Menurut Rikky, keberhasilan eksplorasi di cekungan Andaman dan Kutai Basin dalam dua tahun terakhir menjadi contoh positif yang dapat diterapkan di cekungan-cekungan lainnya.
"Keberhasilan di cekungan Andaman dan Kutai Basin menjadi langkah awal yang baik, dan kami berharap temuan serupa dapat berlanjut di wilayah lainnya," ujar Rikky.
Kolaborasi dan Dukungan Investor
Untuk merealisasikan semua strategi ini, SKK Migas terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah dan pelaku industri energi.
Selain itu, keterlibatan investor yang dapat mendukung pendanaan serta teknologi eksplorasi juga sangat diperlukan untuk mempercepat pencapaian target produksi. Hal ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan untuk mengoptimalkan cadangan minyak dan gas Indonesia.
Dalam rangka meningkatkan kontribusi sektor hulu migas terhadap ketahanan energi nasional, SKK Migas juga melakukan reformasi perizinan dan efisiensi rantai suplai. Dengan berbagai langkah ini, diharapkan Indonesia tidak hanya dapat mencapai target lifting 610.000 barel per hari pada 2026, tetapi juga dapat memperkuat ketahanan energi untuk jangka panjang.