JAKARTA - Di tengah persaingan ketat industri perdagangan digital serta tekanan terhadap daya beli konsumen, PT Global Digital Niaga Tbk. atau Blibli justru mencatatkan kinerja yang mengesankan sepanjang 2025.
Perusahaan yang berada di bawah Grup Djarum ini mampu meningkatkan pendapatan secara signifikan sekaligus memperbaiki profitabilitas berkat penguatan strategi omnichannel yang semakin terintegrasi.
Pendekatan omnichannel yang menggabungkan pengalaman belanja daring dan luring dinilai menjadi kunci penting bagi Blibli dalam menjaga momentum pertumbuhan.
Integrasi berbagai platform dalam satu ekosistem yang lebih luas tidak hanya memperluas jangkauan layanan kepada pelanggan, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan perseroan, emiten berkode saham BELI tersebut mencatatkan pendapatan neto konsolidasian sebesar Rp22,36 triliun pada 2025.
Angka ini tumbuh 34% secara tahunan atau year-on-year (YoY). Lonjakan pendapatan tersebut menjadi indikasi bahwa strategi integrasi ekosistem yang dijalankan perusahaan mulai memberikan dampak nyata terhadap kinerja bisnis.
Pertumbuhan pendapatan ini juga menunjukkan bahwa Blibli mampu memanfaatkan momentum peningkatan transaksi digital serta sinergi antarplatform dalam ekosistemnya.
Performa tersebut menjadi salah satu pencapaian penting bagi perusahaan di tengah dinamika industri e-commerce yang semakin kompetitif.
Pertumbuhan pendapatan didorong strategi omnichannel terintegrasi
Salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan pendapatan Blibli adalah tingginya volume penjualan smartphone melalui strategi omnichannel.
Perpaduan kanal digital dan jaringan toko fisik memungkinkan perusahaan menjangkau konsumen secara lebih luas sekaligus memberikan pengalaman belanja yang lebih fleksibel.
Selain peningkatan volume penjualan, perusahaan juga mencatatkan kenaikan take rate menjadi 8,5%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pada 2024 yang berada di level 6,9%. Bahkan, pada kuartal IV/2025, take rate meningkat hingga mencapai 8,7%.
Kenaikan tersebut terutama didukung oleh pertumbuhan yang kuat di segmen ritel 1P dan jaringan toko fisik. Kondisi ini menunjukkan bahwa integrasi antara platform digital dan ritel fisik mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pendapatan perusahaan.
Pertumbuhan kinerja tersebut juga tercermin dari laba bruto sebelum diskon yang meningkat 32% sepanjang tahun.
Peningkatan ini menunjukkan bahwa ekspansi bisnis yang dilakukan perusahaan tidak hanya meningkatkan skala transaksi, tetapi juga memperkuat kualitas pendapatan yang dihasilkan.
Efisiensi biaya memperkuat kinerja profitabilitas perusahaan
Selain mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang kuat, Blibli juga berhasil memperbaiki struktur biaya operasionalnya. Hal ini terlihat dari menurunnya persentase beban operasional konsolidasian terhadap total nilai transaksi atau TPV.
Jika pada 2024 persentase beban operasional terhadap TPV berada di level 7,4%, maka pada 2025 angka tersebut berhasil ditekan menjadi 7,1%. Perbaikan struktur biaya ini menunjukkan adanya peningkatan efisiensi dalam operasional perusahaan.
Efisiensi tersebut turut memberikan dampak positif terhadap kinerja EBITDA. Persentase EBITDA konsolidasian terhadap TPV tercatat meningkat sebesar 60 basis poin secara tahunan.
CEO & Co-Founder Blibli Kusumo Martanto menyampaikan bahwa pencapaian tersebut menjadi tonggak penting bagi perjalanan perusahaan.
“Kami tetap fokus pada hal yang paling penting yakni membangun ekosistem omnichannel yang terintegrasi dan mampu bertahan untuk menciptakan nilai bagi pelanggan, mitra pemegang merek, serta pemegang saham,” kata Kusumo.
Menurutnya, peningkatan pendapatan yang disertai perbaikan profitabilitas mencerminkan kualitas eksekusi strategi perusahaan. Dengan pendekatan yang terintegrasi, perusahaan dapat meningkatkan nilai transaksi sekaligus menjaga efisiensi operasional.
Ekspansi jaringan ritel fisik memperkuat jangkauan pasar
Selain memperkuat kanal digital, Blibli juga terus memperluas jaringan toko fisik sebagai bagian dari strategi omnichannel. Sepanjang kuartal keempat 2025, perusahaan menambah 34 toko baru di berbagai wilayah.
Hingga akhir 2025, Blibli tercatat telah mengoperasikan 265 toko elektronik konsumen, empat toko elektronik rumah tangga, serta satu toko fesyen dan olahraga. Di luar itu, perusahaan juga mengelola 57 gerai supermarket premium dan 39 pusat pengalaman home and living.
Ekspansi jaringan toko ini tidak hanya meningkatkan kehadiran perusahaan di pasar ritel, tetapi juga memperdalam penetrasi di kota-kota tingkat dua dan tiga. Dengan jaringan distribusi yang semakin luas, perusahaan dapat menjangkau konsumen hingga ke berbagai daerah di Indonesia.
Kusumo menjelaskan bahwa ekspansi jaringan fisik tersebut merupakan bagian penting dari strategi omnichannel yang dijalankan perusahaan.
“Kami meningkatkan pendapatan secara signifikan sekaligus meningkatkan kinerja profitabilitas kami. Ini kombinasi yang mencerminkan kualitas eksekusi kami, bukan sekadar pertumbuhan skala itu sendiri.”
Menurutnya, jaringan ritel fisik tetap menjadi pusat dari proposisi nilai perusahaan yang memposisikan Blibli sebagai mitra omnichannel komprehensif bagi berbagai merek.
Integrasi ekosistem dan inovasi teknologi memperkuat daya saing
Sepanjang tahun lalu, integrasi ekosistem Blibli juga berkembang pesat melalui implementasi keanggotaan terpadu dan program loyalitas yang menghubungkan berbagai platform dalam satu sistem. Program tersebut mencakup Blibli, tiket.com, Ranch Market, serta Dekoruma.
Integrasi ini memungkinkan pelanggan untuk menikmati berbagai layanan dalam satu kerangka keterlibatan yang lebih luas. Hubungan pelanggan pun menjadi semakin kuat karena interaksi dapat terjadi di berbagai platform sekaligus.
Dekoruma, yang memasuki tahun penuh pertamanya dalam ekosistem, juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kategori home and living. Kehadirannya turut memperluas jangkauan strategi omnichannel perusahaan.
Di sisi lain, Blibli juga terus meningkatkan pemanfaatan teknologi seperti analitik data, otomatisasi, serta kecerdasan buatan di berbagai lini operasional. Teknologi tersebut digunakan dalam proses seleksi produk, peramalan permintaan, hingga layanan pelanggan.
“Ini adalah peningkatan struktural dalam cara kami beroperasi, di mana hal ini menurunkan biaya per pesanan, mempertajam pengambilan keputusan, dan meningkatkan skala volume usaha,” jelas Kusumo.
Sementara itu, Chief Financial Officer Blibli Ronald Winardi menyampaikan bahwa kinerja pendapatan yang kuat sepanjang tahun lalu didukung oleh kontribusi positif dari berbagai segmen bisnis.
“Kami menargetkan pertumbuhan pendapatan neto sebesar 15%–20% pada 2026,” ungkapnya.
Meski menghadapi tantangan berupa perlambatan konsumsi dan persaingan yang semakin intens, manajemen perusahaan tetap optimistis bahwa model omnichannel terintegrasi akan mampu menjaga pertumbuhan bisnis dalam jangka panjang.