Program BINA Lebaran Dorong Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat

Senin, 09 Maret 2026 | 12:13:40 WIB
Program BINA Lebaran Dorong Konsumsi dan Daya Beli Masyarakat

JAKARTA - Momentum Ramadan dan Idulfitri kembali dimanfaatkan pemerintah untuk mendorong perputaran ekonomi nasional. 

Salah satu langkah yang ditempuh adalah melalui peluncuran Program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 yang diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat sekaligus memperkuat aktivitas perdagangan di dalam negeri.

Program ini tidak hanya menjadi ajang promosi belanja, tetapi juga strategi untuk menggerakkan sektor ritel serta pusat perbelanjaan agar lebih aktif menghadirkan berbagai penawaran menarik bagi masyarakat.

 Melalui kerja sama antara pemerintah dan pelaku usaha, program ini diharapkan mampu menciptakan peluang transaksi yang lebih besar selama periode Ramadan hingga Lebaran.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan bahwa peluncuran program tersebut merupakan langkah konkret pemerintah untuk memperkuat daya beli masyarakat. Dengan melibatkan banyak pelaku usaha, program ini juga menjadi sarana untuk memperluas akses masyarakat terhadap berbagai produk yang dibutuhkan menjelang hari raya.

Hal itu disampaikan Mendag usai peluncuran program yang berlangsung di Pusat Perbelanjaan Senayan City, Jakarta, pada Jumat.

“Program BINA Lebaran 2026 merupakan instrumen untuk meningkatkan daya beli masyarakat sekaligus mendorong konsumsi domestik. Program ini merupakan kolaborasi yang baik antara ritel modern dengan pusat perbelanjaan; serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menyediakan berbagai produk bagi masyarakat dalam menyambut Lebaran,” ujar Mendag.

Kolaborasi Ritel dan UMKM Perkuat Perdagangan Domestik

Program BINA Lebaran 2026 dirancang sebagai bentuk kolaborasi antara pemerintah dengan berbagai pelaku usaha, mulai dari ritel modern, pusat perbelanjaan, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui kolaborasi ini, diharapkan masyarakat dapat memperoleh beragam pilihan produk dengan harga yang lebih terjangkau.

Menurut Mendag Busan, kerja sama dengan para pelaku usaha akan terus diperluas bahkan setelah periode Lebaran berakhir. Pemerintah ingin memastikan momentum peningkatan konsumsi masyarakat dapat berlangsung sepanjang tahun.

“Setelah Lebaran juga akan ada berbagai agenda menarik lainnya. Kerja sama seperti ini akan terus kita lakukan agar kesempatan menjual produk di dalam negeri sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat dapat terus meningkat,” kata Mendag Busan.

Keterlibatan berbagai pihak dalam program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas sektor perdagangan domestik. Dengan semakin banyak pelaku usaha yang terlibat, peluang peningkatan transaksi diharapkan dapat terus berkembang.

Ramadan dan Lebaran Jadi Momentum Peningkatan Konsumsi

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai bahwa Ramadan dan Lebaran merupakan periode yang sangat penting dalam mendorong konsumsi masyarakat. Pada masa tersebut, aktivitas belanja biasanya mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan periode lainnya.

Oleh karena itu, pemerintah bersama pelaku usaha ritel menghadirkan berbagai program promosi untuk memaksimalkan momentum tersebut. Program BINA Lebaran tahun ini dirancang berlangsung selama 25 hari dengan target transaksi yang cukup besar.

“Program BINA Lebaran tahun ini berlangsung selama 25 hari dengan target transaksi mencapai Rp53 triliun atau meningkat sekitar 60 persen dibandingkan tahun lalu. Kami berharap kegiatan ini dapat semakin menggairahkan konsumsi masyarakat,” ujar Airlangga.

Selain program promosi belanja, pemerintah juga menyiapkan sejumlah stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat menjelang Lebaran. Langkah ini dilakukan agar masyarakat memiliki ruang belanja yang lebih besar sehingga konsumsi domestik dapat meningkat.

Airlangga menambahkan bahwa pemerintah menyalurkan bantuan sosial pangan berupa beras 20 kilogram dan minyak goreng dua liter setiap bulan bagi sekitar 35 juta keluarga penerima manfaat dengan total anggaran Rp11,92 triliun.

“Kami melihat dana yang beredar menjelang Lebaran cukup besar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini,” kata Airlangga.

Promosi Besar dan Diskon Tarik Minat Belanja

Program BINA Lebaran 2026 melibatkan sekitar 800 merek, 80.000 gerai ritel, serta 400 pusat perbelanjaan yang tersebar di 24 provinsi di Indonesia. Melalui partisipasi yang luas ini, masyarakat di berbagai daerah dapat merasakan langsung manfaat program tersebut.

Beragam promosi juga disiapkan untuk menarik minat belanja masyarakat. Di antaranya adalah potongan harga hingga 70–80 persen untuk produk fesyen, gaya hidup, serta perlengkapan Lebaran di berbagai tenant anggota Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo).

Selain diskon besar, program ini juga menghadirkan sejumlah kegiatan lain seperti midnight sale di berbagai pusat perbelanjaan. Tidak hanya itu, tersedia pula promo belanja bagi wisatawan domestik yang sedang melakukan perjalanan selama periode libur Lebaran.

Pemerintah pusat juga mendorong pemerintah daerah untuk memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut. Salah satunya melalui relaksasi pajak reklame selama periode program serta penyebaran informasi melalui media sosial pemerintah daerah dan Kementerian Perdagangan.

Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan bahwa program BINA Lebaran menjadi momentum penting bagi sektor ritel untuk mendorong konsumsi masyarakat sekaligus menggerakkan ekonomi nasional.

“Program ini kami siapkan untuk memperkuat konsumsi domestik. Dengan berbagai promosi yang dihadirkan oleh ritel dan pusat perbelanjaan, kami berharap masyarakat semakin terdorong untuk berbelanja dan perputaran ekonomi nasional dapat meningkat selama Ramadan dan menjelang Lebaran,” ujar Budihardjo.

Tren Kunjungan Pusat Perbelanjaan Mulai Meningkat

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja memproyeksikan adanya peningkatan kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan selama periode Ramadan hingga Lebaran.

Ia menjelaskan bahwa tren kunjungan ke pusat perbelanjaan saat ini mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan jumlah pengunjung diperkirakan berada pada kisaran 10 hingga 15 persen.

“Kami melihat tren kunjungan sudah mulai meningkat dan kami perkirakan kenaikannya bisa mencapai 10 hingga 15 persen. Puncak belanja kemungkinan terjadi dalam dua minggu ke depan sebelum masyarakat mulai mudik,” ujar Alphonzus.

Menurutnya, lonjakan kunjungan juga berpotensi kembali terjadi setelah Lebaran, terutama pada hari kedua Idulfitri. Pada periode tersebut, banyak masyarakat yang memanfaatkan waktu libur untuk berwisata atau sekadar menghabiskan waktu di pusat perbelanjaan.

Perubahan pola konsumsi juga diperkirakan terjadi pada masa tersebut, dengan dominasi belanja di sektor makanan, minuman, serta hiburan. “Jika tingkat kunjungan meningkat, biasanya transaksi ritel juga akan mengikuti dengan pertumbuhan yang relatif sejalan,” tambah Alphonzus.

Terkini