Negosiasi RI-AS Diharapkan Tingkatkan Daya Saing Industri Pangan Nasional

Rabu, 25 Februari 2026 | 13:32:01 WIB
Negosiasi RI-AS Diharapkan Tingkatkan Daya Saing Industri Pangan Nasional

JAKARTA - Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) menyampaikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah Indonesia yang dipimpin langsung Presiden RI dan jajaran terkait. 

Negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) dinilai sebagai langkah penting menjaga stabilitas iklim usaha nasional. GAPMMI menekankan bahwa kepastian pasar dan iklim usaha yang terjaga menjadi faktor utama keberlanjutan industri makanan dan minuman.

Menurut Ketua Umum GAPMMI Adhi Lukman, kepastian pasar tidak hanya soal perdagangan, tetapi juga soal ketersediaan dan keberlanjutan pasokan bahan baku industri. 

“Bagi sektor makanan dan minuman, kepastian tersebut juga sangat bergantung pada ketersediaan dan keberlanjutan pasokan bahan baku industri, terutama untuk bahan baku tertentu yang hingga saat ini belum sepenuhnya tersedia atau belum dapat dipenuhi dari dalam negeri,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa negosiasi perdagangan memiliki dampak langsung terhadap rantai pasok nasional.

Lebih lanjut, dunia usaha menilai bahwa langkah pemerintah ini memberi arah yang jelas bagi industri dalam menjaga produksi berkelanjutan. Kepastian kebijakan mendorong pelaku industri merencanakan kapasitas dan investasi jangka panjang. Dengan begitu, stabilitas dan keberlanjutan sektor makanan dan minuman dapat terus terjaga.

Alternatif Sumber Bahan Baku untuk Industri Pangan

GAPMMI menekankan bahwa negosiasi perdagangan membuka peluang alternatif sumber bahan baku industri. Hal ini menjadi penting untuk menjaga kontinuitas produksi sektor pangan hilir. “Negosiasi perdagangan ini memberikan kontribusi positif dalam menciptakan alternatif sumber bahan baku industri yang dibutuhkan,” ujar Adhi.

Langkah tersebut membantu menjaga realisasi investasi serta penyerapan tenaga kerja di sepanjang rantai nilai industri makanan dan minuman. Dampak positif ini juga dirasakan masyarakat melalui ketersediaan produk dan stabilitas harga. Selain itu, keberlanjutan pasokan bahan baku memberi keamanan operasional bagi produsen lokal.

Industri yang terintegrasi dalam rantai pasok global sangat bergantung pada kepastian bahan baku dan pasar ekspor. Negosiasi perdagangan diharapkan memberikan jaminan pasokan yang dapat diandalkan. Hal ini memudahkan perencanaan produksi dan ekspansi bisnis industri.

Penguatan Daya Saing Produk Unggulan Indonesia

Selain ketersediaan bahan baku, GAPMMI menilai negosiasi perdagangan memperkuat daya saing produk unggulan Indonesia di pasar AS. Produk seperti kakao, kopi, sawit, dan turunannya mendapat manfaat dari pengecualian tarif. “Kepastian akses pasar serta tarif yang lebih kompetitif memberikan ruang bagi pelaku industri untuk meningkatkan efisiensi biaya, menjaga utilisasi kapasitas produksi, serta memperkuat perencanaan investasi yang berorientasi ekspor,” ucap Adhi.

Kondisi ini menjadi faktor penting bagi industri makanan dan minuman yang terhubung dengan rantai pasok global. Produk Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk menembus pasar internasional. Strategi ini sekaligus memperkuat citra industri nasional di kancah global.

Dampak dari penguatan daya saing juga memberi peluang bagi inovasi dan pengembangan produk baru. Produsen dapat meningkatkan kualitas dan varian produk sesuai permintaan pasar internasional. Hasilnya, industri makanan dan minuman Indonesia lebih adaptif dan kompetitif di era perdagangan bebas.

Sinergi Pemerintah dan Dunia Usaha untuk Stabilitas

Sebagai bagian dari ekosistem dunia usaha, GAPMMI mendukung upaya Pemerintah menyeimbangkan kepentingan nasional, perlindungan konsumen, dan daya saing industri. 

Sinergi ini menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan industri makanan dan minuman. Dunia usaha berharap negosiasi perdagangan dapat segera diimplementasikan secara konsisten.

Implementasi kebijakan yang konsisten memudahkan pelaku industri melakukan perencanaan strategis. Kepastian aturan memperkuat kepercayaan investor lokal dan asing. Dengan demikian, sektor manufaktur dapat berkontribusi optimal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Kolaborasi ini juga mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan rantai pasok. Dunia usaha dapat lebih mudah memantau dan mengelola risiko yang muncul. Dampak positifnya tercermin dalam stabilitas harga, kualitas produk, dan kontinuitas produksi.

Dukungan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional

GAPMMI menekankan bahwa negosiasi perdagangan mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional. Stabilitas industri makanan dan minuman memberi kontribusi signifikan pada sektor manufaktur. Hal ini sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang diharapkan pemerintah.

Dengan kepastian pasar dan pasokan bahan baku, pelaku industri mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional. Hal ini juga berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja di seluruh rantai industri. Keberlanjutan industri makanan dan minuman menjadi salah satu penopang stabilitas ekonomi nasional.

Lebih lanjut, keberhasilan negosiasi perdagangan dengan AS dapat menjadi model bagi hubungan perdagangan dengan negara lain. Pengalaman ini membantu Indonesia menegosiasikan kesepakatan yang adil dan menguntungkan bagi pelaku usaha nasional. Dengan demikian, industri domestik lebih siap bersaing di pasar global secara berkelanjutan.

Terkini