Kementerian Perhubungan Prediksi Lonjakan Penumpang Kereta Api Pada 18 Maret 2026

Senin, 23 Februari 2026 | 09:19:12 WIB
Kementerian Perhubungan Prediksi Lonjakan Penumpang Kereta Api Pada 18 Maret 2026

JAKARTA - Momentum arus mudik Lebaran selalu menjadi perhatian utama pemerintah setiap tahunnya. 

Lonjakan jumlah penumpang kereta api diprediksi kembali terjadi pada periode Angkutan Lebaran 1447 H. Karena itu, Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perkeretaapian menyiapkan langkah antisipatif secara menyeluruh.

Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan memproyeksikan puncak arus mudik angkutan Lebaran khusus kereta api akan terjadi pada Rabu, 18 Maret 2026. Sementara puncak arus balik diperkirakan berlangsung pada Selasa, 24 Maret 2026. Proyeksi ini menjadi dasar penyusunan strategi pengamanan dan pengawasan operasional.

Direktur Jenderal Perkeretaapian Allan Tandiono menyampaikan bahwa kapasitas angkut kereta api antarkota yang tersedia mencapai 3,58 juta tempat duduk. Selain itu, akan dioperasikan sekitar 384 perjalanan kereta api per hari selama masa Angkutan Lebaran 2026. Jumlah tersebut disiapkan untuk mengakomodasi kebutuhan mobilitas masyarakat yang meningkat signifikan.

Proyeksi Puncak Arus Mudik dan Balik

“Prediksi puncak mudik pada Rabu, 18 Maret 2026 dan puncak balik pada Selasa, 24 Maret 2026,” kata Allan dalam keterangannya. Pernyataan ini menjadi acuan bagi masyarakat dalam merencanakan perjalanan. Pemerintah berharap distribusi penumpang dapat lebih merata di luar tanggal-tanggal puncak.

Allan juga mengimbau masyarakat agar menghindari tanggal yang diprediksi menjadi puncak arus mudik maupun arus balik. Langkah ini penting untuk mencegah penumpukan penumpang di stasiun. Dengan pengaturan waktu perjalanan yang lebih fleksibel, kenyamanan dan keselamatan dapat lebih terjaga.

“Kami terus upayakan agar persiapan menyambut hajat akbar ini dapat berlangsung optimal sehingga perjalanan mudik masyarakat nantinya dapat berlangsung dengan aman, nyaman, dan selamat,” terang dia. 

Komitmen tersebut menegaskan fokus pemerintah pada aspek pelayanan dan keselamatan. Seluruh jajaran diminta bekerja maksimal menghadapi lonjakan penumpang.

Antisipasi Bencana di Titik Rawan

Sebagai langkah antisipasi terhadap potensi bencana banjir pada awal tahun, DJKA telah menyiagakan personel dan alat berat di sejumlah titik rawan. Upaya ini dilakukan untuk memastikan jalur kereta tetap aman dilalui. Kesiapsiagaan menjadi prioritas agar perjalanan tidak terganggu kondisi cuaca ekstrem.

“Khusus di Semarang dan sekitarnya, kami akan melakukan pemantauan di titik-titik yang sering terjadi bencana banjir, tanah labil, longsor, dan titik-titik rawan di sepanjang jalur guna mengantisipasi banjir seperti yang terjadi pada awal tahun ini,” ungkap Allan. 

Pengawasan difokuskan pada wilayah yang memiliki riwayat gangguan infrastruktur. Langkah ini diambil demi menjaga kelancaran perjalanan menjelang Idul Fitri 1447 H.

Allan menjelaskan bahwa berbagai penanganan telah dilakukan seperti pancang rel, pemasangan cross drain, perkuatan sheet pile baja, normalisasi sungai, serta pengangkatan elevasi jembatan dan rel. Seluruh titik tersebut dipantau selama 24 jam melalui CCTV dan sensor yang ditempatkan di sekitar area. Sistem pengawasan ini dirancang untuk mendeteksi potensi gangguan secara dini.

Penempatan AMUS dan Pemantauan Dapsus

Di wilayah Jawa Tengah dan Yogyakarta, DJKA menempatkan Alat Material untuk Siaga atau AMUS di 62 titik. Peralatan ini disiapkan sebagai sarana penanganan darurat ketika terjadi bencana di jalur perkeretaapian. Dengan kesiapan tersebut, respons cepat dapat segera dilakukan.

Penanganan ini sejalan dengan pemetaan Daerah Pemantauan Khusus atau Dapsus yang tersebar di seluruh wilayah kerja DJKA. Pemetaan dilakukan untuk mengidentifikasi area dengan risiko tinggi. Kolaborasi lintas pihak menjadi bagian penting dalam pengawasan ini.

“Pemantauan dan penanganan Dapsus ini dilakukan secara kolaboratif dengan pihak operator maupun pemerintah daerah setempat agar mengurangi risiko bencana yang dapat mengganggu perjalanan kereta api,” tutur dia. Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat koordinasi di lapangan. Dengan sinergi yang baik, potensi gangguan dapat diminimalkan.

Ramp Check dan Pengawasan Layanan

Selain pengawasan jalur, DJKA juga tengah menyelesaikan rangkaian ramp check sarana perkeretaapian. Hingga saat ini, sebanyak 3.571 sarana telah dirampungkan proses pemeriksaannya. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh armada dalam kondisi laik operasi.

“Terdapat sekitar 4.181 sarana yang perlu dilakukan ramp check untuk lebaran ini, terdiri dari 326 unit lokomotif, 2.119 unit kereta ditarik lokomotif, 103 unit KRD dan 1.633 unit KRL, dan saat ini kami masih terus menghimpun data dari teman-teman balai yang melakukan ramp check di lapangan,” urai Allan. 

Proses pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh pada setiap unit. Standar keselamatan menjadi acuan utama dalam setiap tahapan.

Pelaksanaan ramp check telah dimulai sejak 2 Februari 2026 di seluruh wilayah kerja Balai Teknik Perkeretaapian di bawah DJKA. Pemeriksaan dilakukan guna memastikan kelaikan operasional dalam menunjang arus mudik maupun arus balik jelang Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Dengan kesiapan ini, perjalanan kereta api diharapkan berjalan lancar.

DJKA juga menggelar ramp check standar pelayanan minimum di stasiun serta inspeksi keselamatan sarana dan prasarana perkeretaapian. Selain itu, Posko Harian Bidang Perkeretaapian akan dioperasikan untuk memantau pergerakan masyarakat. Seluruh langkah tersebut diambil demi memastikan kelancaran, keamanan, dan kenyamanan perjalanan selama masa mudik Lebaran 2026.

Terkini