JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan optimisme terhadap pertumbuhan kredit perbankan pada 2026 yang diproyeksikan mencapai 10%–12%.
Meskipun pertumbuhan tahun sebelumnya belum menembus dua digit, OJK melihat peluang percepatan kredit berdasarkan pemantauan kondisi masing-masing bank. Target ini disusun dengan pendekatan berbasis realitas dan kondisi riil industri perbankan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menjelaskan bahwa target pertumbuhan kredit mencerminkan pendekatan hati-hati yang memperhatikan kondisi individual bank.
“Tugas kami memang mengamati bank secara individual. Jadi target ini based on reality,” ujarnya. Langkah ini bertujuan untuk memastikan perencanaan kredit sesuai kemampuan perbankan sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
Dian menambahkan bahwa meski pertumbuhan kredit tahun lalu tidak mencapai 10%, sejumlah faktor struktural dapat mendorong percepatan. Bank-bank BUMN menjadi motor utama pertumbuhan karena sedang menyelesaikan proses konsolidasi struktural. Ke depan, strategi manajemen baru diharapkan mempercepat ekspansi kredit.
Peran Bank BUMN dalam Akselerasi Kredit
Bank BUMN diproyeksikan menyumbang lebih dari 50% pertumbuhan kredit nasional. Dian menekankan, begitu konsolidasi selesai dan strategi baru dijalankan, peningkatan kredit bisa signifikan. Hal ini menjadi pendorong utama target pertumbuhan kredit 2026.
Selain itu, OJK mencatat adanya penyesuaian rencana bisnis bank (RBB) ke arah yang lebih ekspansif. Penyesuaian target kredit di sebagian besar bank justru meningkat (upward adjustment). Kondisi ini mencerminkan kesiapan perbankan untuk mendorong pertumbuhan kredit lebih agresif.
Dian menilai koordinasi antarbank dan sinergi strategi manajemen menjadi faktor krusial. Bank BUMN yang tangguh mampu memberikan efek domino bagi bank swasta dan lembaga keuangan lainnya. Dengan demikian, target pertumbuhan nasional lebih realistis dan terukur.
Fokus pada Pembiayaan UMKM dan Instrumen Baru
OJK memperkuat peran pembiayaan ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai pendorong pertumbuhan kredit. Melalui Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), OJK memiliki kewenangan dan instrumen baru untuk memperluas akses pembiayaan UMKM.
“OJK sudah menerbitkan POJK terkait kemudahan akses UMKM, dan kami juga membentuk Direktorat UMKM. Persoalan UMKM itu kompleks, mulai dari data, model bisnis, sampai pembiayaannya, dan itu yang sekarang kami benahi secara sistemik,” jelas Dian.
Pendekatan ini bertujuan memperluas basis kredit dan mendukung sektor usaha produktif. Selain itu, perbankan diharapkan memanfaatkan instrumen OJK untuk menyalurkan kredit yang aman dan tepat sasaran. Strategi ini diharapkan mendorong pertumbuhan kredit secara merata di seluruh sektor ekonomi.
Selain UMKM, OJK juga memantau kondisi undisbursed loan yang nilainya lebih dari Rp 2.400 triliun. Meskipun sering dianggap sebagai indikasi lemahnya permintaan kredit, OJK melihat angka tersebut sebagai komitmen pembiayaan yang belum terealisasi.
Tantangannya adalah menciptakan demand kredit agar komitmen tersebut dapat diwujudkan menjadi penyaluran riil.
Pendekatan Indonesia Incorporated untuk Mendongkrak Demand
Untuk mendorong pertumbuhan kredit, Dian menekankan pentingnya pendekatan Indonesia Incorporated. Pendekatan ini mengedepankan koordinasi lintas sektor dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan permintaan pembiayaan.
“Tidak bisa satu sektor ke kiri, yang lain ke kanan. Semua harus terorkestrasi. Negara-negara seperti Korea, Jepang, dan Singapura bisa maju karena menerapkan pendekatan ini,” ujarnya.
Koordinasi lintas sektor mencakup kebijakan industri, investasi, perdagangan, dan pembiayaan. Dengan sinergi yang tepat, demand kredit dapat tumbuh lebih cepat dan mengalir ke sektor riil. Dian menekankan bahwa ketersediaan likuiditas bukan masalah, namun tanpa permintaan kredit yang kuat, dana tidak akan tersalurkan dengan optimal.
Pendekatan ini juga mencakup dukungan fiskal, likuiditas perbankan, serta insentif untuk sektor usaha. OJK yakin, kombinasi kebijakan dan koordinasi lintas sektor akan mendorong realisasi kredit lebih tinggi. Dengan strategi ini, pertumbuhan kredit dapat berjalan seimbang dan berkelanjutan.
Optimisme OJK terhadap Realisasi Target Kredit
Dian menilai potensi pertumbuhan kredit nasional masih terbuka lebar sepanjang tahun. Konsolidasi perbankan, kebijakan lintas sektor, dan dorongan permintaan kredit dari dunia usaha menjadi faktor kunci. OJK optimistis target pertumbuhan 10%–12% akan tercapai apabila ketiga faktor tersebut berjalan harmonis.
Lebih lanjut, OJK menekankan perlunya penciptaan demand kredit yang berkelanjutan. Hal ini akan memastikan likuiditas bank tersalurkan dengan efisien ke sektor riil. Dengan penciptaan demand yang kuat, kredit perbankan menjadi instrumen lebih menarik dibanding surat berharga negara atau instrumen lainnya.
Optimisme OJK juga didorong oleh kesiapan bank dalam menyesuaikan strategi bisnis. Penyesuaian ini mencakup target kredit, manajemen risiko, dan inovasi produk pembiayaan. Dengan seluruh strategi berjalan seiring, OJK yakin pertumbuhan kredit perbankan 2026 dapat tercapai sesuai target.
Strategi Jangka Panjang dan Dampak Ekonomi
Ke depan, pertumbuhan kredit diharapkan memberikan kontribusi signifikan terhadap pembangunan ekonomi nasional. Kredit yang sehat akan mendorong investasi, ekspansi usaha, dan penciptaan lapangan kerja. Selain itu, fokus pada UMKM dan sektor produktif memperkuat fondasi ekonomi dari basis yang lebih luas.
Pendekatan Indonesia Incorporated akan menjadi model koordinasi sektor riil dan pembiayaan yang efektif. Sinergi lintas sektor diharapkan menciptakan permintaan kredit stabil dan berkelanjutan. Dengan dukungan OJK, bank, dan pemerintah, pertumbuhan kredit dapat mendorong perekonomian lebih inklusif dan merata.
Strategi ini sekaligus menguatkan perbankan sebagai motor penggerak pertumbuhan nasional. Dengan target kredit tercapai, industri keuangan akan lebih tangguh menghadapi tantangan ekonomi. OJK optimistis, kombinasi konsolidasi, koordinasi lintas sektor, dan dorongan permintaan akan memastikan pertumbuhan kredit 2026 sesuai harapan.