JAKARTA - Skuad putra Jepang secara mengejutkan berhasil membungkam perlawanan tim tuan rumah China dalam laga final Kejuaraan Beregu Asia 2026.
Kemenangan gemilang ini diraih dengan skor telak tanpa balas pada babak pamungkas yang berlangsung di Qingdao Conson Gymnasium akhir pekan lalu. Hasil ini membawa Jepang mengukir sejarah baru untuk pertama kalinya meraih gelar juara tertinggi di ajang bergengsi tingkat benua Asia tersebut.
Dominasi para pemain Negeri Sakura terlihat sejak partai pertama dimulai yang membuat ribuan pendukung tim tuan rumah terdiam menyaksikan kekalahan mengejutkan tersebut. Keberhasilan ini sekaligus mengakhiri penantian panjang tim putra Jepang yang selama ini selalu berusaha menembus dominasi tim-tim kuat seperti China dan Indonesia.
Kemenangan Pembuka Yushi Tanaka Atas Tunggal Putra Tuan Rumah
Langkah awal kejayaan Jepang dimulai dari penampilan impresif tunggal putra pertama mereka, Yushi Tanaka, yang berhasil menumbangkan wakil China, Hu Zhe An. Dalam pertandingan yang berlangsung selama 48 menit tersebut, Tanaka menunjukkan ketenangan yang luar biasa menghadapi tekanan dari penonton tuan rumah di Qingdao.
Skor akhir 21-10 dan 21-18 menjadi bukti keunggulan strategi permainan net yang diperagakan oleh pemain nomor 19 dunia tersebut di lapangan. Kemenangan di partai pembuka ini memberikan rasa percaya diri yang sangat besar bagi rekan-rekan satu tim Jepang yang akan bertanding di partai selanjutnya.
Sebaliknya, kekalahan Hu Zhe An di hadapan publik sendiri menjadi beban berat bagi skuad China yang semula sangat diunggulkan untuk mempertahankan gelar. Momentum kemenangan Tanaka ini seolah menjadi pembuka jalan bagi rekan-rekannya untuk terus menekan pertahanan tim lawan yang mulai terlihat goyah sejak gim pertama berakhir.
Ganda Putra Jepang Perlebar Jarak Keunggulan Melalui Pertandingan Ketat
Memasuki partai kedua, pasangan ganda putra Jepang, Kakeru Kumagai dan Hiroki Nishi, tampil penuh semangat menghadapi He Ji Ting yang berpasangan dengan Ren Xiang Yu. Pertandingan berlangsung sengit selama lebih dari satu jam dengan aksi jual beli serangan yang sangat memukau penonton di tribun stadion.
Kumagai dan Nishi sempat kehilangan gim kedua setelah menang di gim pertama, namun mereka berhasil bangkit pada gim penentu dengan skor akhir 21-17, 14-21, dan 21-15. Keunggulan dua poin tanpa balas ini semakin mendekatkan tim putra Jepang ke tangga juara dan membuat posisi China berada di ujung tanduk.
Kerjasama yang solid serta pertahanan rapat yang diperagakan oleh ganda Jepang menjadi kunci keberhasilan mereka meredam agresivitas serangan pasangan andalan China tersebut. Keberhasilan mengamankan poin kedua ini memberikan tekanan psikologis yang sangat berat bagi tunggal putra kedua China yang harus memenangkan partai selanjutnya.
Koki Watanabe Pastikan Gelar Juara Melalui Drama Tiga Gim
Pesta kemenangan Jepang akhirnya dipastikan oleh tunggal putra kedua mereka, Koki Watanabe, yang sukses menyudahi perlawanan Zhu Xuan Chen dalam drama tiga gim. Watanabe sempat tertinggal pada gim pertama dengan skor tipis 22-24 sebelum akhirnya mampu membalikkan keadaan di dua gim berikutnya secara dramatis.
Pemain andalan Jepang ini menunjukkan daya juang yang luar biasa dengan memenangkan gim kedua 21-17 dan menutup gim penentu dengan kemenangan 21-18. Dengan hasil ini, Jepang resmi menang dengan skor 3-0 atas China dan tidak perlu melanjutkan dua partai tersisa yang sudah dijadwalkan.
Tangis haru dan sorak kegembiraan pecah di bench pemain Jepang saat pukulan terakhir Watanabe gagal dikembalikan dengan sempurna oleh tunggal putra tuan rumah tersebut. Kemenangan ini bukan sekadar gelar juara, namun juga pembuktian regenerasi pemain bulu tangkis Jepang yang semakin merata dan berkualitas di tingkat internasional.
Catatan Sejarah Baru Bagi Bulu Tangkis Jepang Di Asia
Gelar juara yang diraih di Qingdao ini menjadi catatan emas bagi federasi bulu tangkis Jepang karena merupakan trofi pertama mereka di sektor beregu putra Asia. Sebelumnya, prestasi terbaik tim putra Jepang di ajang ini hanya sebatas menjadi runner-up pada edisi tahun 2016 yang lalu setelah kalah dari tim Indonesia.
Keberhasilan ini juga melengkapi kesuksesan tim putri Korea Selatan yang beberapa jam sebelumnya juga berhasil menumbangkan tim putri China di laga final. Hasil akhir turnamen tahun ini menunjukkan adanya pergeseran peta kekuatan bulu tangkis di Asia di mana tim-tim tamu mampu berjaya di kandang macan.
Kepulangan tim Jepang dengan membawa medali emas tentu akan disambut dengan sangat meriah setibanya mereka di Tokyo sebagai pahlawan olahraga yang baru. Kemenangan telak 3-0 atas raksasa bulu tangkis dunia seperti China di markas mereka sendiri adalah pencapaian yang sangat luar biasa dan sulit dilupakan.
Evaluasi Mendalam Bagi Tim Tuan Rumah Dan Proyeksi Masa Depan
Di sisi lain, kekalahan telak di depan publik sendiri menjadi pukulan yang sangat telak bagi tim bulu tangkis China yang menargetkan sapu bersih gelar juara. Kegagalan tim putra maupun putri untuk mengamankan podium tertinggi di rumah sendiri dipastikan akan memicu evaluasi besar-besaran dari tim kepelatihan China.
Banyak analis olahraga berpendapat bahwa tekanan sebagai tuan rumah menjadi salah satu faktor yang membuat para pemain muda China gagal tampil lepas di laga final. Meskipun demikian, talenta-talenta muda China seperti Hu Zhe An dan Zhu Xuan Chen tetap diprediksi akan menjadi ancaman serius bagi dunia badminton kedepannya.
Seluruh rangkaian pertandingan final Kejuaraan Beregu Asia 2026 ini berakhir pada hari Minggu 8 Februari 2026 dengan menempatkan Jepang sebagai raja baru di sektor putra. Para pecinta bulu tangkis kini menantikan pertemuan selanjutnya antar kedua tim kuat ini pada turnamen-turnamen mayor lainnya yang akan segera bergulir dalam waktu dekat.