JAKARTA - Harga Batu Bara Berpeluang Lanjut Menguat, Ini Penopangnya menjadi perhatian pelaku pasar energi global.
Pergerakan harga terkini mencerminkan kombinasi antara faktor permintaan dan pasokan yang masih dinamis. Situasi tersebut membuka ruang bagi kelanjutan tren positif dalam jangka pendek.
Harga batu bara berpeluang melanjutkan tren penguatan pada pekan ini. Pasar mencermati prospek permintaan dari China dan India, serta dinamika pasokan dari negara produsen utama, termasuk Indonesia dan Australia. Kondisi tersebut menjadi penopang utama sentimen pasar batu bara.
Meskipun terdapat fluktuasi harian, arah pergerakan harga masih dinilai konstruktif. Pelaku pasar tetap mencermati data perdagangan dan proyeksi ke depan. Fokus utama tertuju pada keseimbangan antara suplai dan kebutuhan energi global.
Pergerakan Harga Batu Bara Acuan Global
Berdasarkan data perdagangan Jumat, harga batu bara Newcastle untuk Februari 2026 turun US$ 0,4% ke level US$ 115,6 per ton. Kontrak Maret 2026 melemah US$ 0,35 menjadi US$ 117,25 per ton. Sementara itu, April 2026 terkerek US$ 0,25 menjadi US$ 117,4 per ton.
Pergerakan tersebut menunjukkan adanya variasi antar kontrak pengiriman. Pasar menilai penurunan tipis masih dalam batas wajar. Harga tetap berada di kisaran yang relatif kuat dibanding periode sebelumnya.
Di sisi lain, pasar Eropa menunjukkan arah yang berbeda. Harga batu bara Rotterdam untuk Februari 2026 melejit US$ 2,35 menjadi US$ 102,85. Kontrak Maret 2026 melesat US$ 2,8 menjadi US$ 103,1.
Kinerja Tahunan dan Pandangan Pasar
Untuk kontrak April 2026 di Rotterdam, harga tercatat naik US$ 2,65 menjadi US$ 102,55. Kenaikan tersebut memperlihatkan adanya penguatan sentimen di kawasan Eropa. Permintaan regional menjadi salah satu faktor pendorong.
Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, dibandingkan awal pekan, harga batu bara belum mengalami perubahan signifikan. Meski demikian, secara tahunan kinerja batu bara masih mencatatkan penguatan yang solid. Kondisi ini mencerminkan daya tahan komoditas tersebut.
“Secara year to date (ytd), harga batu bara sudah menguat hampir 9%, mencerminkan sentimen pasar yang relatif positif,” ujar Girta Yoga kepada Investor Daily, baru-baru ini. Pernyataan tersebut menggambarkan optimisme yang masih terjaga. Pelaku pasar menilai tren jangka pendek tetap menarik.
Peluang Bullish dan Level Teknis
Untuk sepekan ini, Yoga menilai harga batu bara masih memiliki peluang melanjutkan tren bullish. Meski demikian, pergerakannya tetap akan dipengaruhi sejumlah faktor eksternal. Sentimen global menjadi penentu utama arah harga.
Dari sisi teknikal, level resistance diperkirakan berada di kisaran US$117,00–119,50 per ton. Area tersebut menjadi batas psikologis bagi pergerakan harga. Jika mampu ditembus, peluang penguatan lanjutan terbuka.
“Namun, jika muncul katalis negatif, harga berpotensi terkoreksi ke area support di kisaran US$115,00–112,50 per ton,” jelasnya. Koreksi tersebut dinilai sebagai bagian dari dinamika pasar. Investor tetap diminta mencermati pergerakan harga harian.
Permintaan China dan India Jadi Motor
Menurut Yoga, beberapa indikator utama yang memengaruhi pergerakan harga batu bara pekan ini berasal dari sisi permintaan. China dan India masih menjadi fokus utama pasar. Kedua negara tersebut berperan besar dalam konsumsi global.
Dari sisi permintaan, China diperkirakan masih menjadi motor utama. Negeri Tirai Bambu tersebut berencana mengoperasikan lebih dari 100 pembangkit listrik tenaga batu bara sepanjang tahun ini. Langkah tersebut berpotensi mendorong kebutuhan batu bara secara signifikan.
“India juga menunjukkan sinyal peningkatan permintaan, terutama setelah tercapainya kesepakatan dagang terbaru dengan Amerika Serikat,” tambah Yoga. Kesepakatan tersebut membuka peluang peningkatan aktivitas industri. Dampaknya turut dirasakan pada sektor energi.
Pasokan Global dan Proyeksi Menengah
Sementara itu, dari sisi pasokan, kebijakan pemangkasan produksi batu bara di Indonesia dinilai memberi dampak positif. Indonesia merupakan eksportir batu bara terbesar dunia. Pengurangan pasokan berpotensi memperketat pasar global.
Dengan berkurangnya pasokan dari Indonesia, negara importir utama perlu mencari alternatif. China dan India menjadi pihak yang paling terdampak. Kondisi ini pada akhirnya dapat menopang harga batu bara.
“Dengan berkurangnya pasokan dari Indonesia, negara importir utama seperti China dan India perlu mencari alternatif dari negara eksportir lain, yang pada akhirnya bisa menopang harga,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan peran penting Indonesia. Pasar global merespons kebijakan ini secara positif.
Untuk jangka menengah, Yoga memproyeksikan harga batu bara pada kuartal I-2026 akan bergerak dalam rentang US$108–118 per ton. Rentang tersebut mencerminkan volatilitas yang masih terjaga. Peluang penguatan tetap terbuka di tengah dinamika pasar.
“Secara umum, sentimen batu bara masih cukup konstruktif, namun pelaku pasar tetap perlu mencermati faktor risiko eksternal,” pungkas Yoga. Pernyataan ini menutup pandangan dengan sikap waspada. Pasar diharapkan tetap adaptif terhadap perubahan global.