Permintaan CPO Masih Kuat, Emiten Sawit Tetap Prospektif Sepanjang Tahun 2026

Senin, 09 Februari 2026 | 09:21:45 WIB
Permintaan CPO Masih Kuat, Emiten Sawit Tetap Prospektif Sepanjang Tahun 2026

JAKARTA - Industri kelapa sawit masih menyimpan daya tarik di tengah berbagai tantangan kebijakan. 

Sejumlah sentimen negatif memang muncul pada awal 2026. Namun, peluang kinerja emiten sawit tetap terbuka.

Permintaan CPO Masih Tinggi, Emiten Sawit Masih Prospektif di Tahun 2026 menjadi gambaran kondisi industri saat ini. Kinerja emiten sawit dinilai masih solid meskipun tekanan jangka pendek membayangi. Optimisme ini ditopang oleh permintaan domestik dan global.

Pasar menilai sawit masih menjadi komoditas strategis. Baik untuk kebutuhan pangan maupun energi terbarukan. Kondisi ini membuat emiten sawit tetap menarik dicermati.

Penundaan Biodiesel B50 Jadi Tantangan Awal

Salah satu sentimen negatif berasal dari penundaan implementasi biodiesel B50. Kebijakan tersebut seharusnya mulai diterapkan pada awal tahun 2026. Penundaan ini menahan tambahan permintaan domestik CPO.

Padahal, B50 sebelumnya dipandang sebagai katalis positif. Program ini diharapkan meningkatkan serapan CPO dalam negeri. Dengan demikian, margin emiten sawit berpotensi terdorong.

Meski demikian, dampak penundaan tidak sepenuhnya menggerus prospek. Program biodiesel B40 masih berjalan. Keberlanjutan B40 tetap menopang permintaan CPO.

Kenaikan Pungutan Ekspor dan Dampaknya

Selain B50, kebijakan lain datang dari kenaikan pungutan ekspor kelapa sawit. Pemerintah menaikkan pungutan ekspor menjadi 12,5% dari sebelumnya 10%. Kebijakan ini mulai berlaku pertengahan 2026.

Pungutan tersebut bertujuan menopang implementasi biodiesel B40. Selain itu, kebijakan ini menjaga keberlanjutan pendanaan BPDP. Namun, kenaikan ini berpotensi menekan margin emiten.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menilai kebijakan tersebut berdampak jangka pendek. “Ini bisa menekan margin dan menghilangkan tambahan permintaan domestik. Namun, dampaknya terbatas karena B40 tetap berjalan,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar.

Permintaan Domestik dan Global Masih Menopang

Di tahun 2026, Azis melihat potensi perbaikan kinerja masih terbuka. Kebijakan B40 dinilai mampu menjaga average selling price emiten sawit. Harga jual yang stabil menjadi penopang utama.

Selain itu, konsumsi dalam negeri juga berpotensi meningkat. Momentum Ramadan dan Idul Fitri mendorong kenaikan permintaan. Faktor musiman ini memberi sentimen tambahan.

“Di sisi lain konsumsi dalam negeri juga masih bisa meningkat, mengingat mendekati Idul Fitri serta Ramadan yang bisa membuat konsumsi juga naik,” ungkapnya. Permintaan domestik menjadi bantalan di tengah ketidakpastian kebijakan.

Valuasi Saham dan Rekomendasi Investor

Secara valuasi, saham emiten CPO masih relatif undervalue. Namun investor tetap perlu mencermati sejumlah faktor risiko. Arah kebijakan biodiesel dan pajak ekspor menjadi perhatian utama.

Selain itu, pergerakan harga CPO global juga berpengaruh besar. Isu ESG turut menjadi faktor penilaian jangka panjang. Kombinasi faktor ini menentukan arah investasi.

Azis merekomendasikan trading buy untuk PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. Target harga berada di kisaran Rp 1.820 hingga Rp 1.840 per saham. Rekomendasi ini mencerminkan potensi jangka pendek.

Pandangan Pasar terhadap Permintaan dan Produksi

Pengamat Pasar Modal Kiswoyo Adi Joe menilai penundaan B50 tidak mengganggu permintaan CPO. Produksi sawit nasional diperkirakan hanya tumbuh sekitar 1% dibandingkan 2025. Kondisi ini menjaga keseimbangan pasar.

Dengan pertumbuhan produksi terbatas, tekanan pasokan relatif terkendali. Harga CPO dinilai masih dapat bertahan. Stabilitas ini menjadi faktor positif. “Artinya, ini masih bisa menjaga harga di kisaran MYR 4.200 - MYR 4.500 per ton sepanjang tahun ini,” ungkapnya. Kisaran harga tersebut dinilai mendukung kinerja emiten.

Emiten Unggulan dan Tantangan Valuasi

Di tahun 2026, TAPG dan DSNG dinilai masih menjadi unggulan. Usia tanaman sawit mereka berada pada fase produktif. Faktor ini mendukung volume produksi.

Namun, valuasi kedua emiten tersebut dinilai masih mahal. TAPG memiliki PER 8,36x dan DSNG 8,69x. Sementara PBV TAPG 2,67x dan DSNG 1,42x. Kondisi valuasi ini membuat investor lebih selektif. Potensi pertumbuhan tetap ada, namun ruang kenaikan terbatas. Penilaian harga menjadi pertimbangan utama.

Rekomendasi Alternatif dan Faktor Pendukung

Kiswoyo merekomendasikan beli untuk AALI dan LSIP. Target harga masing-masing berada di Rp 9.000 dan Rp 1.500 per saham. Rekomendasi berlaku hingga akhir 2026.

“PBV keduanya masih di bawah 1x, yaitu AALI 0,63x dan LSIP 0,59x,” tuturnya. Valuasi rendah dinilai memberi margin keamanan. Saham ini dipandang lebih menarik. Permintaan global juga menjadi faktor penting. India dan China masih menunjukkan minat tinggi. Hal ini menopang prospek ekspor CPO.

Prospek Moderat dan Strategi Investasi

Investment Analyst Edvisor Profina Visindo Indy Naila menilai penundaan B50 bisa menekan ASP. Penurunan ASP berpotensi mempengaruhi margin. Namun dampaknya masih dapat diredam. Jika permintaan global tetap tinggi, kinerja CPO masih tertopang. India dan China menjadi pasar utama. Faktor ini menjaga prospek industri.

“Kondisi suplai CPO juga masih harus dipantau pasca musim hujan saat ini, apakah bisa menopang jumlah permintaan,” katanya. Pemantauan suplai menjadi kunci ke depan. Kinerja emiten CPO pada 2026 diproyeksikan tumbuh moderat. Penopang utama berasal dari permintaan biodiesel yang masih kuat. Kondisi ini menjaga optimisme pasar.

Indy menyarankan investor mencermati DSNG dan TAPG. Target harga masing-masing Rp 1.710 dan Rp 1.700 per saham. Rekomendasi ini mencerminkan prospek jangka menengah.

Terkini