JAKARTA - Pembahasan mengenai virus Nipah kembali mencuri perhatian publik seiring meningkatnya kewaspadaan global.
Banyak masyarakat bertanya tentang asal-usul penamaan virus tersebut yang terdengar tidak lazim. Penjelasan ilmiah dari pakar menjadi penting untuk meluruskan pemahaman yang berkembang.
Pakar jelaskan asal mula nama virus nipah dalam konteks sejarah penemuan penyakit menular. Adjunct Professor Griffith University Prof. Tjandra Yoga Aditama menceritakan asal nama penyakit virus nipah yang kini ramai diperbincangkan masyarakat. Penjelasan ini disampaikan berdasarkan pengalaman dan kajian epidemiologi yang panjang.
“Kita dan juga dunia mengikuti dengan waspada perkembangan penyakit akibat Virus Nipah, yang pada saat ini kasusnya ada di India. Tentu nama virus ini, Nipah, bukanlah bahasa India, ini adalah bahasa Melayu yang kita kenal bersama,” kata Prof.
Tjandra dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa nama virus memiliki latar geografis tertentu.
Penjelasan ini sekaligus membuka pemahaman bahwa penamaan virus sering kali berkaitan erat dengan lokasi awal ditemukannya kasus. Hal tersebut merupakan praktik yang lazim dalam dunia epidemiologi. Dengan demikian, nama Nipah bukan muncul secara acak atau kebetulan.
Awal Mula Kasus Pertama Virus Nipah
Prof Tjandra mengatakan berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologinya secara lengkap, klaster kumpulan kasus dari virus itu sebenarnya bermula pada akhir September 1998. Lokasi awal kejadian berada di sekitar kota Ipoh, negara bagian Perak. Pada fase ini, penyakit tersebut belum dikenali secara jelas oleh otoritas kesehatan.
Kasus-kasus awal ini menunjukkan gejala gangguan kesehatan yang serius pada pasien. Namun, belum ada kesimpulan pasti mengenai penyebab penyakit tersebut. Kondisi ini membuat proses identifikasi berjalan cukup panjang.
Dalam situasi tersebut, para tenaga medis menghadapi tantangan besar dalam menentukan langkah penanganan. Keterbatasan informasi menyebabkan berbagai dugaan awal bermunculan. Penyelidikan epidemiologi pun terus dilakukan secara mendalam.
Perkembangan Klaster Kedua dan Dugaan Awal Penyakit
Sesudah itu, klaster kelompok kasus kedua terjadi dekat kota Sikamat di negara bagian Negeri Sembilan. Peristiwa ini berlangsung pada Desember 1998 hingga Januari 1999. Pada tahap ini, penyakitnya masih belum dikenal secara resmi.
Bahkan, pada awalnya penyakit tersebut diduga sebagai Japanese Encephalitis atau JE. Dugaan ini muncul karena kesamaan gejala yang dialami pasien. Radang otak atau ensefalitis menjadi ciri utama pada kedua penyakit tersebut.
Ketidakpastian diagnosis membuat penanganan belum sepenuhnya tepat sasaran. Para ahli masih mengumpulkan data dan melakukan perbandingan klinis. Proses ini menjadi bagian penting dalam sejarah penemuan virus Nipah.
Munculnya Klaster Besar di Sungai Nipah
Sampai kemudian terjadi klaster ketiga yang menjadi wabah paling besar. Lokasinya berada di Kampung Sungai Nipah dan Bukit Pelandok serta wilayah sekitarnya di Port Dickson. Kejadian ini bermula pada Desember 1998 dan berdampak luas.
Kampung Sungai Nipah kemudian terkena lockdown oleh pemerintah setempat. Langkah ini diambil untuk mencegah penyebaran penyakit yang semakin meluas. Data dari wilayah ini menjadi kunci dalam penelitian lanjutan.
Dari hasil pengumpulan data tersebut, dilakukan penelitian mendalam oleh para ahli. Penelitian ini akhirnya mengarah pada kesimpulan adanya virus baru. Virus baru inilah yang kemudian diberi nama virus Nipah.
Penetapan Nama dan Klasifikasi Virus Nipah
“Buku Nipah Virus Infection terbitan WHO Southeast Asia Regional Office (SEARO) tahun 2008 juga menyebutkan bahwa penamaan virus ini menunjukkan pada desa di Malaysia di mana virus ini resmi ditemukan ,” ujar Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu.
Pernyataan ini memperkuat dasar penamaan virus Nipah. Nama tersebut merujuk langsung pada lokasi penemuan awal.
Pria yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Mantan Kabalitbangkes itu melanjutkan bahwa awal mulanya penyakit tersebut diduga sebagai Japanese Encephalitis. Hal ini disebabkan pasien mengalami radang otak atau ensefalitis. Kondisi serupa juga ditemukan pada kasus virus Nipah.
Penyakit ini awalnya juga diduga sebagai penyakit Hendra. Dugaan tersebut muncul karena kemiripan gejala dan kedekatan asal-usul virusnya. Namun, hasil penelitian lanjutan memberikan pemahaman yang lebih akurat.
Virus Nipah kemudian diklasifikasikan bersama virus Hendra. Keduanya membentuk gen virus baru yang dinamakan Henipavirus. Henipavirus sendiri termasuk dalam familia virus Paramyxoviridae.
Klasifikasi ini menjadi tonggak penting dalam dunia virologi. Penemuan tersebut membantu pengembangan strategi pencegahan dan pengendalian penyakit. Hingga kini, virus Nipah tetap menjadi perhatian serius komunitas kesehatan global.