Insentif Logistik Dinilai Penting untuk Mendukung Zero ODOL 2027 Secara Efektif

Kamis, 05 Februari 2026 | 10:29:42 WIB
Insentif Logistik Dinilai Penting untuk Mendukung Zero ODOL 2027 Secara Efektif

JAKARTA - Rencana penerapan kebijakan Zero Over Dimension Over Loading pada 2027 menjadi perhatian serius pelaku industri. 

Kebijakan tersebut diperkirakan berdampak langsung terhadap ongkos distribusi berbagai produk manufaktur. Salah satu sektor yang terdampak adalah industri air minum dalam kemasan yang selama ini masih bergantung pada angkutan berlebih.

Kementerian Perindustrian mengusulkan pemberian insentif untuk menekan lonjakan biaya distribusi tersebut. Usulan ini muncul karena larangan angkutan ODOL berpotensi memicu kebutuhan penambahan armada. Penambahan armada dinilai akan meningkatkan biaya logistik secara signifikan bagi pelaku industri.

Selama ini, praktik ODOL masih banyak digunakan untuk menekan ongkos pengiriman produk. Industri AMDK menjadi salah satu sektor yang masih memanfaatkan skema tersebut. Perubahan kebijakan diharapkan tidak menimbulkan tekanan berlebihan terhadap biaya produksi.

Dampak Zero ODOL terhadap Biaya Distribusi AMDK

Penerapan Zero ODOL dinilai akan menambah biaya distribusi akibat keterbatasan kapasitas angkutan. Pelaku industri harus menambah jumlah kendaraan untuk menjaga volume pengiriman. Kondisi ini secara langsung meningkatkan biaya operasional logistik.

Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Putu Juli Ardika menyebutkan bahwa penambahan armada akan menjadi konsekuensi kebijakan tersebut. Menurutnya, selama ini ODOL digunakan sebagai cara menekan ongkos logistik. Tanpa skema tersebut, biaya distribusi per unit diperkirakan akan meningkat.

“Kalau dari industri penggunanya ini kan ada cost, sebenarnya kalau ada insentif, kemudahan pembiayaan dan lain-lainnya, dan apalagi ada stimulus yang diberikan pemerintah, ini secara keekonomian secara keseluruhan industri otomotifnya laku, tenaga kerja armada nya tambah banyak, ini yang perlu dicari solusinya,” kata Putu.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya dukungan kebijakan agar industri tetap kompetitif. Insentif dinilai dapat menjadi solusi penyeimbang dampak Zero ODOL.

Insentif Logistik Dinilai Beri Efek Berganda

Pemberian insentif angkutan logistik diyakini dapat memberikan dampak berganda bagi perekonomian. Insentif tersebut tidak hanya meringankan biaya distribusi industri manufaktur. Sektor transportasi dan otomotif juga diperkirakan ikut terdorong.

Menurut Putu, insentif dapat meningkatkan permintaan kendaraan angkutan. Hal ini berpotensi menciptakan lapangan kerja baru di sektor transportasi. Selain itu, industri otomotif nasional juga dapat memperoleh manfaat dari peningkatan kebutuhan armada.

“Ya salah satu untuk logistik. Kalau logistik udah banyak dibahas, nanti mungkin salah satunya yang tadi di transportasi angkutan barang untuk produk-produk yang dibutuhkan masyarakat yang dihasilkan industri,” terangnya. Pernyataan tersebut menegaskan fokus pemerintah pada angkutan barang. Insentif dipandang sebagai instrumen untuk menjaga kelancaran distribusi.

Tantangan Logistik dan Keterbatasan Moda Transportasi

Biaya logistik per unit masih dinilai cukup tinggi akibat keterbatasan moda transportasi. Penerapan kebijakan ODOL selama ini menjadi salah satu faktor penekan biaya distribusi. Namun, kebijakan Zero ODOL akan mengubah pola pengangkutan barang secara signifikan.

“Banyak AMDK yang didistribusikan dengan kendaraan truk yang over dimension maupun overload,” katanya. Kondisi tersebut mencerminkan ketergantungan industri terhadap angkutan berlebih. Tanpa alternatif yang memadai, biaya logistik dikhawatirkan melonjak.

Selain itu, pembatasan distribusi pada periode tertentu juga menjadi tantangan tersendiri. Hari besar keagamaan kerap memicu pembatasan lalu lintas angkutan barang. Situasi ini berdampak pada kelancaran pasokan AMDK di pasar.

Bahan Baku Kemasan dan Beban Biaya Produksi

Tantangan industri AMDK tidak hanya berasal dari sisi distribusi. Ketersediaan bahan baku kemasan dalam negeri masih terbatas. Sebagian bahan kemasan masih harus dipenuhi dari impor.

Bahan seperti Biaxially Oriented Polypropylene Terephtalte dan Biaxially Oriented Polypropylene dikenakan bea masuk antidumping. Kebijakan tersebut membuat harga bahan kemasan relatif tinggi. Kontribusi biaya kemasan terhadap total biaya produksi menjadi cukup besar.

Kondisi ini mempersempit ruang bagi industri untuk menekan harga jual produk. Ketika biaya distribusi dan bahan baku meningkat bersamaan, tekanan terhadap margin usaha semakin besar. Oleh karena itu, dukungan kebijakan dinilai semakin mendesak.

Respons Pelaku Industri terhadap Kebijakan Zero ODOL

Perkumpulan Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia tengah mencari solusi menghadapi kebijakan Zero ODOL. Organisasi ini berupaya agar kebijakan tersebut tidak membebani ongkos produksi secara berlebihan. Dialog dengan pemerintah terus dilakukan untuk mencari titik temu.

Ketua Umum Aspadin Firman Sukirman menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah. Ia menegaskan bahwa keselamatan dan ketertiban transportasi merupakan tujuan penting. Namun, dampak ekonomi kebijakan juga perlu diperhatikan.

“Kami berharap agar pemerintah berkenan mempertimbangkan dampak pemberlakuan Zero ODOL ini yang akan berimbas pada kenaikan biaya logistik,” ujar Firman. Kebijakan tersebut juga berpotensi meningkatkan jumlah kendaraan di jalan raya. Selain itu, biaya pengadaan armada tambahan, konsumsi bahan bakar, serta emisi gas buangan menjadi tantangan lanjutan.

Terkini